Bagi pemilik bisnis yang bergerak di bidang logistik, pergudangan, atau manufaktur, keputusan antara membeli atau menyewa forklift bukan hanya soal operasional, tetapi juga strategi finansial jangka panjang. Salah satu cara terbaik untuk mengevaluasi keputusan ini adalah melalui perhitungan ROI (Return on Investment), yaitu seberapa cepat modal yang dikeluarkan untuk membeli forklift dapat kembali melalui efisiensi biaya dan produktivitas.
Membeli Forklift: Investasi Jangka Panjang
Membeli forklift berarti perusahaan menempatkan dana besar sebagai belanja modal (CapEx). Biaya awal ini mungkin tinggi, tetapi aset tersebut akan memberikan manfaat berulang selama masa pakainya, biasanya 5 hingga 10 tahun. Dengan kepemilikan sendiri, perusahaan memiliki kontrol penuh atas penggunaan unit, jadwal perawatan, dan fleksibilitas operasional tanpa harus tergantung pihak ketiga.
Selain itu, memiliki forklift sendiri memungkinkan perusahaan mencatat nilai aset tetap pada neraca, yang dapat meningkatkan nilai perusahaan dan menjadi jaminan finansial di masa depan. Ketika unit sudah tidak digunakan, perusahaan dapat memanfaatkan opsi jual forklift bekas atau jual forklift bekas bergaransi resmi SHN, sehingga sebagian modal bisa dikembalikan.
Membandingkan Biaya Sewa dan Pembelian
Untuk memahami titik impas pembelian forklift, penting membandingkan biaya total pembelian dengan biaya sewa jangka panjang, misalnya 3–5 tahun.
- Biaya beli: meliputi harga unit baru, perawatan rutin, asuransi, dan penyusutan.
- Biaya sewa: meliputi paket rental harian, bulanan, atau tahunan yang biasanya sudah termasuk perawatan, namun dibayarkan terus menerus selama digunakan.
Dalam jangka panjang, membeli forklift biasanya lebih ekonomis jika unit digunakan secara konsisten. Misalnya, biaya sewa per bulan bisa mencapai jumlah yang hampir setara dengan harga beli dalam 3–5 tahun penggunaan, tergantung frekuensi operasi. Perusahaan yang menghitung dengan cermat dapat menemukan titik impas (break-even point), yaitu periode di mana investasi pembelian mulai lebih menguntungkan dibandingkan sewa.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi ROI
- Frekuensi Penggunaan – Semakin sering forklift digunakan, semakin cepat ROI tercapai.
- Biaya Perawatan – Perawatan rutin yang efisien dapat memperpanjang umur unit dan menekan biaya operasional.
- Harga Sewa vs Harga Beli – Harga sewa di pasar lokal, seperti paket sewa bulanan atau jangka panjang, menjadi patokan perbandingan.
- Nilai Resale – Menggunakan layanan jual forklift bekas bergaransi resmi SHN memungkinkan perusahaan memulihkan sebagian modal saat unit diganti, meningkatkan ROI secara efektif.
Contoh Perhitungan Sederhana
Misalnya, sebuah perusahaan membeli forklift seharga Rp 400 juta dan biaya perawatan tahunan Rp 20 juta. Total biaya 5 tahun adalah sekitar Rp 500 juta. Sementara, biaya sewa jangka panjang per bulan Rp 10 juta, total 5 tahun sekitar Rp 600 juta. Dari perhitungan sederhana ini, ROI pembelian tercapai sebelum akhir tahun kelima, dengan keuntungan tambahan berupa kepemilikan aset tetap dan fleksibilitas operasional.
Kesimpulan
Menghitung ROI pembelian forklift membantu pemilik bisnis membuat keputusan yang lebih tepat antara membeli atau menyewa. Dengan pembelian, perusahaan mendapatkan kontrol penuh, kesiapan operasional 24/7, dan potensi pengembalian modal melalui jual forklift bekas atau jual forklift bekas bergaransi resmi SHN. Analisis jangka panjang 3–5 tahun biasanya menunjukkan bahwa investasi pembelian forklift menjadi lebih ekonomis dibandingkan sewa, terutama untuk operasional yang konsisten dan intensif.
Jika kamu ingin memahami lebih lanjut strategi pembelian forklift dan menghitung ROI sesuai kebutuhan operasional bisnismu, kamu bisa langsung berkonsultasi melalui SHN Contact Center. Tim profesional SHN siap memberikan solusi yang paling tepat untuk efisiensi operasional dan investasi alat berat perusahaan.
Pelajari lebih lanjut berbagai produk dan layanan SHN dengan mengunjungi website resmi di shn.co.id.